Adab Santri Terhadap Dirinya Sendiri Menurut Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

Adab-Santri-Terhadap-Dirinya-Sendiri-Menurut-Hadratussyaikh-KH-Hasyim-Asy_ari
Adab-Santri-Terhadap-Dirinya-Sendiri-Menurut-Hadratussyaikh-KH-Hasyim-Asy_ari
banner 468x60

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari selalu memberikan petuah-petuah tentang keilmuan yang hingga kini masih dipegang teguh oleh santri-santrinya. Beberapa diantaranya ialah soal adab santri terhadap dirinya sendiri. Jika disimpulkan, ada 10 adab santri terhadap dirinya sendiri menurut Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Beberapa diantaranya ialah sebagai berikut:

Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!

Pertama, santri hendaknya menyucikan hati dari segala kepalsuan, noda hati, dengki, iri hati, akidah yang buruk dan akhlak tercela; agar mudah menerima ilmu, menghafal, menyingkap makna-maknanya yang terdalam dan yang samar.

Kedua, santri hendaknya memperbagus niat dalam mencari ilmu, yaitu semata-mata mencari ridha Allah Swt, mengamalkan ilmu, menghidupkan syariat, menerangi hati, menghias nurani dan taqarrub kepada Allah Swt. tidak bertujuan duniawi, baik berupa kepemimpinan, jabatan, harta benda, keunggulan atas teman-temannya, penghormatan masyarakat, dan tujuan sejenisnya.

Ketiga, santri hendaknya bergegas menuntut ilmu di usia muda dan mayoritas usia hidupnya. Pelajar jangan tergoda dengan sikap menunda-nunda dan berkhayal saja, karena setiap waktu yang berlalu tak tergantikan. Pelajar berusaha maksimal melepaskan diri dari hal-hal yang menyibukkan dan merintanginya dari menuntut ilmu secara total, ijtihad maksimal dan usaha sungguh-sungguh meraih ilmu. Sesungguhnya hal-hal tersebut adalah “perampok-perampok” belajar.

Keempat, santri hendaknya bersikap qana’ah terhadap makanan maupun pakaian yang dimiliki. Berbekal sabar atas ekonomi yang pas-pasan, maka pelajar dapat meraih keluasan ilmu; menghimpun hati dari aneka ragam angan-angan kosong; dan mengalir hikmah-hikmah kepadanya.

Kelima, santri hendaknya mengatur waktu-waktunya di siang maupun malam hari, serta memanfaatkan hidupnya sebaik mungkin. Waktu terbaik untuk menghafal adalah waktu sahur; pagi hari untuk mendiskusikan ilmu; pertengahan siang untuk menulis; ,malam hari untuk belajar dan mengingat kembali. Adapun tempat terbaik untuk menghafal adalah kamar-kamar dan setiap tempat yang menjauhkan dari hal-hal yang melalaikan.

Keenam, santri hendaknya menyedikitkan makan dan minum, karena kekenyangan menghalangi ibadah dan memberatkan badan. Di antara manfaat sedikit makan adalah kesehatan badan dan terjaga dari berbagai penyakit badan, karena penyebab penyakit badan adalah kebanyakan makan dan minum. Manfaat lain dari sedikit makan dan minum adalah keselamatan hati dari sikap sewenang-wenang dan sombong. Tidak seorangpun dari waliyullah, imam maupun ulama pilihan yang mempunyai sifat atau disifati banyak makan, dan tiada pujian bagi orang yang banyak makan. Sesungguhnya banyak makan hanya terpuji bagi binatang yang disiapkan untuk bekerja.

Ketujuh, santri hendaknya selalu memaksa dirinya untuk bersikap wira’i dan berhati-hati dalam segala tingkah lakunya. santri harus meneliti betul terhadap kehalalan makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan segala kebutuhannya yang lain; agar hatinya menjadi terang, mudah menerima ilmu dan cahaya ilmu, serta meraih manfaatnya ilmu. santri seyogyanya menggunakan kemurahan-kemurahan yang diberikan oleh Allah Swt. sesuai tempatnya, ketika membutuhkan dan ada sebab-sebabnya, karena sesungguhnya Allah Swt. senang apabila kemurahan-kemurahan-Nya dilaksanakan oleh para hamba-Nya seperti halnya Dia senang apabila ‘azimah-‘azimah-Nya (kewajiban asal sebelum adanya keringanan) dilaksanakan oleh para hamba-Nya.

Kedelapan, santri sebaiknya menyedikitkan konsumsi makanan yang termasuk penyebab kebodohan dan melemahkan panca indera. Misalnya: apel yang masam, buncis dan cuka. Begitu juga makanan yang menyebabkan banyak lendir (dahak; riak: Jawa) yang melemahkan fungsi otak dan memperberat badan, misalnya; banyak minum susu, ikan, dan sejenisnya. Pelajar seyogyanya menghindari hal-hal yang dalam kasus tertentu bisa menimbulkan lupa; misalnya: mengonsumsi makanan bekas gigitan tikus, membaca batu nisan kuburan, berdiri di tengah ketika menuntun seekor unta dan berjalan sejajar, serta membuang kutu rambut dalam keadaan hidup.

Kesembilan, santri hendaknya menyedikitkan tidur sepanjang tidak berdampak buruk pada kondisi tubuh dan otaknya. Dalam sehari-semalam , pelajar maksimal tidur 8 jam, yaitu setara 1/3 hari. Apabila dia mampu tidur kurang dari 8 jam, maka boleh melakukannya. Santri diperkenankan untuk mengistirahatkan tubuh, hati, otak dan indra penglihatannya apabila anggota tubuhnya tersebut terasa lelah dan lemah; yaitu dengan cara berekreasi dan bersantai di tempat-tempat rekreasi sekira bisa memulihkan kembali kebugaran tubuhnya dan tidak menyia-nyiakan tubuhnya.

Kesepuluh, santri hendaknya meninggalkan pergaulan, karena sesungguhnya meninggalkan pergaulan penting bagi pelajar, apalagi pergaulan dengan lawan jenis; terutama jika pergaulan tersebut lebih banyak permainannya dan sedikit kegiatan berpikirnya. Sesungguhnya watak manusia itu suka mencuri-curi (kesempatan) dan bahaya pergaulan adalah menyia-nyiakan usia tanpa ada manfaatnya serta dapat menghilangkan keberagamaan seseorang apabila bergaul dengan orang yang rendah kualitas keberagamaannya. Apabila pelajar membutuhkan seorang teman bergaul, bertemanlah dengan sahabat yang shalih, kualitas keberagamaannya bagus, bertakwa, wira’i, bersih hatinya, banyak kebaikannya, sedikit keburukannya, bagus harga dirinya, sedikit permusuhannya, mau mengingatkan jika si pelajar lupa dan mau membantu tatkala ingat.

 

Wallahu a’lam bissawab …

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Comments are closed.