LSPT – Kiai Haji Muhammad Anwar Manshur adalah putra dari pasangan Kiai Haji Manshur Pacul Gowang Jombang dengan Nyai Salamah (putri ke-3 KH. Abdul Karim Lirboyo,). Kiai Anwar Manshur menghabiskan masa kecilnya di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo.
Thank you for reading this post, don't forget to subscribe!Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren Pacul Gowang Jombang, pesantren ayahnya sendiri. Setelah itu, menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng sampai tingkat tsanawiyah dan diteruskan di Pesantren Lirboyo.
Pada 2 Desember 2019, KH. Anwar Manshur melakukan kunjungan ke Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas. Dalam kunjungannya beliau memberikan sebuah amalan untuk melancarkan rezeki, sekaligus memberikan nasehat hidup kepada seluruh santri dan yang hadir saat itu.
Amalan yang diberikan Kiai Anwar diakui berasal dari para ulama. Amalan tersebut berfungsi untuk melancarkan rezeki. Namun beliau mensyaratkan bagi yang mengamalkan harus bekerja mencari nafkah dan tidak tinggal diam. Pergi bekerja sambil membaca amalan tersebut akan membuat rezekinya lancar tak terduga.
Menurut Kiai Anwar, bekerja itu ibarat meminta, orang yang meminta pasti dikasih tetapi kalau diam saja itu artinya tidak meminta, kalau tidak meminta maka tidak akan dikasih. Bekerja sebagai sarana ikhtiar sedangkan hasil tidaknya dipasrahkan kepada Allah SWT.
Bacaan amalan tersebut adalah membaca صَلَّى اللَّهُ عَلَى مُحَمَّدٍ (Shollallahu ala Muhammad), dibaca sehari 1000 kali. Menurut Kiai Anwar, amalan ini sebaiknya langsung dibaca sekali duduk, kira-kira memakan waktu sekitar seperempat jam. Tetapi, jika tidak mampu dilakukan sekali duduk maka bisa dibagi lima waktu yaitu setiap selesai sholat fardlu, dibaca sebanyak dua kali putaran tasbih. Meskipun manjur tidaknya antara dikerjakan sekali duduk dengan tidak tentu lebih utama yang sekali duduk.
Lafal selawatnya juga tidak boleh diubah, sebab Kiai Anwar mendapatkan amalan tersebut dari Kiai Mahrus dengan lafal demikian. Sedangkan, batas waktu yang baik untuk melaksanakan amalan ini menurut beliau adalah selama tujuh hari atau dalam jangka sebelas hari.
Setelah memberikan tersebut, Kiai Anwar memberikan nasehat kepada kita semua tentang makna hidup. Beliau mengawalinya dengan sebuah pertanyaan. Kita hidup di dunia ini oleh gusti Allah disuruh apa? Apakah disuruh makan, disuruh kerja atau apa?
Selanjutnya beliau menguraikan jawaban atas pertanyaan itu. Kiai Anwar menjelaskan, kita dihidupkan di dunia ini supaya kita mengerti bahwa hakikat hidup adalah untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana bunyi al-Qur’an surah Adz-Dzaariyaat: ayat 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja).”
Jadi, kita dihidupkan oleh Allah untuk beribadah kepada-Nya. Orang yang tidak beribadah berarti dzalim, sebab tidak sesuai dengan tujuan diciptakan. Maka, sungguh pertolongan yang besar jika kita dididik oleh orang tua untuk ibadah kepada Allah ta’ala
Baca Juga : Adab Santri Terhadap Dirinya Sendiri Menurut Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari
Menurut Kiai Anwar, ibadah banyak macamnya dan tidak terbatas pada salat atau ngaji saja. Semua pekerjaan yang baik bisa bernilai ibadah kalau kita mengetahui ilmunya. Seperti menolong orang juga ibadah, merawat anak dan menyadari kalau anak titipan Allah kemudian kita didik untuk ibadah kepada gusti Allah itu ibadah. Seorang ibu merawat anak, menyusui, memandikan dan semacamya agar menjadi anak yang bisa ibadah kepada Allah juga ibadah dan ganjarannya besar sekali.
Kiai Anwar Manshur kemudian menganjurkan setiap kita ingin melakukan suatu pekerjaan harus berniat “Bismillahirrahmanirrohim, niat mencari rezeki untuk bekal ibadahku dan keluargaku.” Maka saat kita pergi bekerja, pergi ke sawah, pergi ke pasar ganjarannya sama seperti pergi jamaah ke masjid. Kita dapat rezeki alhamdulillah, tidak dapat rezeki tetap mendapat ganjaran.
Semua pekerjaan itu bisa bernilai ibadah apabila kita memiliki ilmu. Membahagiakan orang di dunia itu pahalanya besar sekali. Menurut Kiai Anwar, hendaknya kita tidak meninggalkan amal baik walaupun itu kecil dan tidak mengerjakan amal jelek walaupun itu kecil.
Beliau juga berpesan: “mumpung kita hidup, sehidup-hidupnya kita ini tidak lama, 80-90 tahun itu jarang-jarang, 100 tahun itu langka, umumnya 70, 60, 63 itu sudah selesai. Mari sisa umur ini kita gunakan untuk ibadah kepada Allah SWT”.
Wallahu a’lam bissawab …








